Rabu, 18 November 2020

PERAN MEDIA PEMBELAJARAN INFOKUS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

 

PERAN MEDIA PEMBELAJARAN INFOKUS  UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

Peran guru sangat penting dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) di kelas mengingat untuk mengendalikan kelas dan mengatur jalannya proses belajar mengajar guru harus mampu membangun suasana kelas yang kondusif pada siswa guna tercapainya hasil pembelajaran yang maksimal. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, pengetahuan. Hasil belajar diukur untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan sehingga hasil belajar harus sesuai dengan tujuan pendidikan.     

            Tugas seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa tidaklah mudah. Guru harus memiliki berbagai kemampuan yang dapat menunjang tugasnya agar tujuan pendidikan dapat dicapai. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam meningkatkan kompetensi profesinya ialah kemampuan mengembangkan Media pembelajaran. Dalam mengembangkan Media pembelajaran seorang guru harus dapat menyesuaikan antara media yang dipilihnya dengan kondisi siswa, materi pelajaran dan sarana yang ada. Oleh karena itu, guru harus menguasai beberapa jenis media pembelajaran agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar dan tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud.

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Sebagai komponen, media pembelajaran hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai dengan proses pembelajaran secara menyeluruh. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian semua pihak, terutama bagi guru sebagai fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu tiap - tiap pendidik perlu mempelajari bagaimana hakekat, arti dan manfaat media, serta dapat menetapkan /memilih media pembelajaran yang tepat agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.

            Rendahnya tingkat partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran dan kurangnya kemampuan siswa untuk bertanya tentang materi yang dipelajari diasumsikan sebagai akibat dari kurangnya minat siswa terhadap materi pembelajaran sehingga hasil belajar juga kurang memuaskan.

Menurut Lautfer, media pembelajaran adalah salah satu alat bantu mengajar untuk meningkatkan kreatifitas dan perhatian siswa dalam proses pembelajaran. Dengan media diharap siswa akan lebih termotivasi, imajinasi siswa dirangsang, perasaan disentuh dan kesan yang dalam diperoleh siswa. Perhatian siswa terhadap materi pembelajaran meningkat sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Sebagai komponen, media pembelajaran hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai dengan proses pembelajaran secara menyeluruh. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian semua pihak, terutama bagi guru sebagai fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu tiap - tiap pendidik perlu mempelajari bagaimana hakekat, arti dan manfaat media, serta dapat menetapkan /memilih media pembelajaran yang tepat agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.

Selanjutnya Sardiman menyatakan bahwa, manfaat media pembelajaran dalam kegiatan mengajar secara umum antara lain, dapat menarik dan memperbesar perhatian siswa terhadap materi pengajaran yang disajikan, dapat mengatasi perbedaan pengalaman belajar berdasarkan latar belakang sosial ekonomi, dan dapat membantu siswa dalam memberikan pengalaman belajar yang sulit diperoleh dengan cara lain. Lebih lanjut Sardiman menyatakan, media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan panca indra.

Peran media pembelajaran sebagai alat untuk menciptakan proses mengajar dan belajar agar siswa dapat lebih cepat memahami materi pelajaran yang digunakan. Dengan menggunakan media pembelajaran yang baik dalam proses pembelajaran maka akan tercapai tujuan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran terdapat beberapa cara atau media yang digunakan oleh guru guna mencapai hasil pembelajaran, yaitu media audio,media visual, media audio visual dan multimedia. Multimedia yaki media yang melibatkan berbagai indera dalam sebuah pembelajaran. Termasuk dalam media ini adalah segala sesuatu yang memberikan pengalaman langsung bisa melalui komputer dan internet, bisa juga melalui pengalaman berbuat dan pengalaman terlibat. Dalam penelitan ini penulis ingin mengangkat media multimedia yakni Media pembelajaran infokus dengan power point yang saya sebutkan di atas.

1.      Pengertian Belajar Mengajar

Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Belajar menunjuk kepada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai yang menerima pelajaran (peserta didik) sedangkan menunjuk kegiatan apa yang harus dilakukan oleh seorang guru yang menjadi pengajar.

Iskandar (1982:37) menuliskan dalam Kumpulan dan Pikiran Pendidikan Proses Belajara Mengajar dapat diartikan hubungan antara pihak pengajar (guru) dan pihak yang di ajar (siswa), sehingga terjadi suasana di mana pihak siswa aktif belajar dan pihak guru aktif mengajar.  Dengan demikian PBM ini merupakan proses interaksi antara guru dengan murid atau peserta didik pada saat pengajaran.

Dalam proses interaksi, ada unsur memberi dan menerima baik dari pihak guru / peserta didik, agar terjadi interaksi belajar mengajar yang baik, ada beberapa faktor yang harus dipenuhi, sedangkan hal-hal yang dapat dikemukakan sebagai dasar-dasar terjadinya interaksi belajar mengajar yang baik ada beberapa faktor yang harus dipenuhi.

Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peran utama. Peristiwa belajar mengajar banyak berakar pada berbagai pandangan dan konsep. Oleh karena itu perwujudan proses belajar mengajar dapat terjadi dalam berbagai model dengan menggunakan berbagai metode dan media pembelajaran. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.  

Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan antara guru dan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar.
Proses belajar mengajar memiliki makna dan pengertian yang lebih luas daripada pengertian mengajar semata.
Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya suatu kesatuan kegiatan yang tak terpisahlam antara sisiwa yang belajar dan guru yang mengajar. Antara kedua kegiatan ini terjadi interaksi yang saling menunjang.

 

2. Strategi Belajar Mengajar

Istilah strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu strategos yang artinya suatu usaha untuk mencapai kemenangan dalam suatu peperangan. Isilah strategi ini, selanjutnya digunakan dalam berbagai bidang yang memiliki esensi yang relatif sama termasuk diadopsi dalam konteks pembelajaran yang dikenal dengan istilah strategi pembelajaran. Dikaitkan dengan belajar mengajar, strategi dapat diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Syaiful Bahri 1995:5).

Mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni tujuan instruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan sisiwa yang harus memainkan peranan serta ada dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan serta sarana dan prasarana yang tersedia.

      J.J Hasibuan  dan Moedjiono (2009:3) Mengatakan bahwa :

 

“Strategi belajar Mengajar adalah pola umum perbuatan guru murid di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar. Pengertian strategi dalam hal ini menunjukkan pada karakteristik abstral dari rentetan-rentetan perbuatan guru murid dalam suatu peristiwa belajar mengajar aktual tertentu, dinamakan prosedur instruksional”

 

 

Di dalam sejarah dunia pendidikan guru merupakan sosok figur teladan bagi siswa/i yang harus memiliki strategi dan teknik-teknik dalam mengajar. Kegiatan belajar mengajar sebagai sistem intruksional merupakan interaksi antara siswa dengan komponen-komponen lainnya, dan guru sebagai pengelola kegiatan pembelajaran agar lebih aktif dan efektif secara optimal. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya di sebut metode mengajar. Teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara mengajar yang dipergunakan oleh guru atau insturktur kepada siswa di dalam kelas agar pelajaran itu dapat ditangkap, dipahami dan digunakan siswa dengan baik. Maka, yang disebut dengan strategi belajar mengajar ialah memikirkan dan mengupayakan konsistansi aspek-aspek komponen pembentuk kegiatan sistem intruksional dengan siasat tertentu. Strategi Belajar Mengajar adalah pola-pola umum kegiatan guru – anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

      Strategi belajar mengajar sangat penting untuk mencapai tujuan belajar mengajar yang sesuai dengan keinginan pendidik dan peserta didik. Strategi belajar mengajar merupakan pola-pola umum kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Tidak hanya tujuan dari guru, tetapi juga tujuan dari peserta didik yang menjadi subjek dan objek dalam pendidkan. Strategi belajar yang  meliputi metode dan teknik dalam pembelajaran harus dilakukan secaa optimal. Jangan hanya mengira bahwa strategi belajar mengajar terpusat pada metode pembelajaran saja, teknik belajar pun juga sangat menentukan dalam pencapaian tujuan pendididkan. Komponen startegi belajar tersebut pun harus didukung oleh komponen pembelajaran lainnya. Semuanya harus saling mempengaruhi. Jadi strategi belajar yang tidak hanya dikembangkan oleh pendidik tetapi peserta didikpun juga harus mengembangkan strategi belajar mengajar mereka.    

Menurut pengertian di atas strategi belajar mengajar adalah suatu kegiatan edukatif antara  guru dan anak didik, interaksi yg bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajaran secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatu guna kepentingan pembelajaran. Sehingga bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat difahami dan diaplikasikan siswa dengan tuntas.

Strategi Belajar Mengajar adalah cara atau prosedur yang dilakukan dan digunakan  oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran baik itu metode dan media pembelajaran yang digunakan oleh guru. Ada banyak media dan metode yang bisa digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar sehingga menumbuhkan motivasi dna minat belajar peserta didik yang tentu sangat berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik.

Dalam dalam penelitian ini peneliti lebih terfokus kepada media pembelajaran sebagai strategi belajar mengajar yang digunakan dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik. Berkaitan dengan strategi pengajaran yang memadukan teknologi dan media, Januszewski dan Molenda, (2008:1), mengemukakan teknologi pendidikan adalah kajian dan praktek etis untuk memfasilitasi belajar dan dan memperbaiki kinerja dengan menciptakan, mengunakan, dan mengelola proses dan sumber teknologi yang sesuai. Sedangkan media pengajaran atau pendidikan adalah segala bentuk peralatan fisik komunikasi berupa hardware dan sofwere merupakan bagian kecil dari teknologi pembelajaran yang harus diciptakan (didesain dan dikembangkan), digunakan, dan dikelola (dievaluasi) untuk kebutuhan pembelajaran dengan maksud untuk mencapai efektifitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran.

 Berdasarkan semua uraian di atas, strategi pengajaran dengan memadukan teknologi dan media dapat dijelaskan sebagai segala bentuk kajian dan praktek etis yang mengunakan peralatan fisik komunikasi berupa hardware dan sofwere untuk memfasilitasi belajar dan memperbaiki kinerja dengan menciptakan, mengunakan, dan mengelola proses dan sumber teknologi yang sesuai. Dalam menentukan strategi pengajaran dengan memadukan teknologi dan media dalam aktivitas pembelajaran tentunya harus mempertimbangkan berbagai factor,  karena mengingat penggunaan teknologi yang berpengaruh memungkinkan terhadap kecepatan transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Selain itu, hal ini akan mempengaruhi hasil belajar siswa, usia siswa dan juga kenyamanan menerapkan strategi yag digunakan. Maka bagi pendidik harus selektif pada pilihannya dan menggunakan berbagai pendekatan  yang membantu peserta didik untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan.

 

3. Media Pembelajaran

    3.1. Pengertian Media Pembelajaran

Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, media pembelajaran sebenarnya bukan hal yang baru. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan sangat penting dalam proses pembelajaran. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru PAK sebagai fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu tiap-tiap pendidik perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.

Pada kenyataannya media pembelajaran masih sering terabaikan dengan berbagai alasan, diantaranya: terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar bagi guru sebagai pendidik, kesulitan untuk mencari model dan jenis media yang tepat, keterbatasan biaya yang sebagian dikeluhkan, dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap pendidik telah mempunyai pengetahuan, pemamahan dan ketrampilan mengenai media pembelajaran.

Kata media berasal dari bahasa latin ”medio”. Dalam bahasa latin media dimaknai sebagai antara. Media merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti pengantara atau pengantar. Secara khusus kata tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk membawa informasi dari satu sumber kepada penerima.

Kata media berasal dari bahasa Latin Medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Menurut KBBI, media dapat diartikan sebagai perantara, penghubung; alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk; yang terletak diantara dua pihak (orang, golongan, dan sebagainya) . Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari medium. Secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Pengertian umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.

Beberapa pakar/ahli media menyatakan definisi media dengan berbagai batasan-batasan tertentu. Gagne mengartikan media sebagai berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Sedangkan, Heinich, Molenda, dan Russel menyatakan bahwa : “A medium (plural media) is a channel of communication, example include film, television, diagram, printed materials, computers, and instructors. (Media adalah saluran komunikasi termasuk film, televisi, diagram, materi tercetak, komputer, dan instruktur) batasan media sebagai segala bentuk saluran yang dipergunakan untuk menyampaikan memberikan pesan atau informasi. NEA (National Education Assosiation) memberikan batasan media sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak, audio visual, serta peralatanya.

Dari beberapa batasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa media merupakan segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk meyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, dapat membangkitkan semangat, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa.

Sedangkan “pembelajaran” merupakan bentuk jamak dari kata belajar yang mempunyai kata dasar “ajar”. Ajar menurut KBBI adalah petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut), belajar merupakan suatu usaha untuk memperoleh kepandaian/ilmu. Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru/pendidik untuk membuat para peserta didik melakukan proses belajar. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya. Kegiatan belajar hanya akan berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Seorang guru tidak dapat mewakili belajar siswanya. Seorang siswa belum dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru yang sedang mengajar. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat siswa belajar. Peran yang seharusnya dilakukan guru adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber belajar yang ada.

Dengan demikian media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media pembelajaran dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajiakan informasi belajar kepada siswa, jika program media itu didesain dan dikembangkan dengan baik.

 

3.2. Kedudukan Media dalam Sistem Pembelajaran

Pembelajaran dikatakan sebagai sebuah sistem karena di dalamnya mengandung komponen yang saling berkaitan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Komponen-komponen tersebut meliputi: tujuan, materi, metode, media dan evaluasi. Cepy Riyana (2012:9) menggambarkan sistem pembelajaran sebagai berikut:

 

PEMBELAJARAN

 

EVALUASI

 

METODE

 

MEDIA

 

TUJUAN

 

MATERI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


            Dari gambar di atas kita bisa melihat kedudukan Media dalam pembelajaran.  Dalam Pembelajaran terdapat Tujuan Pembelajaran, Materi, Metode, Media dan Evalusi. Kesemuanya memiliki peran dalam keberhasilan pembelajaran dan saling terkait satu sama lain. Media Pembelajaran setara dengan Metode pembelajaran. Metode yang digunakan dalam proses pembelajaran biasanya akan menuntut media apa yang dapat diintegrasikan dan diadaptasikan dengan kondisi yang dihadapi.

 

3.3. Fungsi dan Peran Media Pembelajaran

Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur amat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respons yang diharapkan siswa kuasai setelah pembelajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.

Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan serta isi pelajaran pada saat itu. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan tepercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.

Cepy Riyana (2012:14), dalam kaitannya dengan fungsi Media Pembelajaran dapat ditekankan beberapa hal sebagai berikut:

1.    Penggunaan media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi memiliki fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif.

  2.    Media pembelajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran. Hal ini mengandung pengertian bahwa media pembelajaran sebagai salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan.

  3.    Media pembelajaran dalam penggunaannya harus relevan dengan kompetensi yang ingin dicapai dan isi pembelajaran itu sendiri. Fungsi ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalam pembelajaran harus selalu melihat kepad kompetensi dan bahan ajar.

  4.    Media pembelajaran bukan berfungsi sebagai alat hiburan, dengan demikian tidak diperkenankan menggunakannya hanya sekedar untuk permainan atau memancing perhatian siswa semata.

  5.    Media pembelajaran bisa berfungsi untuk mempercepat proses belajar. Fungsi ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran siswa dapat menangkap tujuan dan bahan ajar lebih mudah dan lebih cepat.

  6.    Media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar. Pada umumnya hasil belajar siswa dengan menggunakan media pembelajaran akan tahan lama mengendap sehingga kualitas pembelajaran memiliki nilai yang tinggi.

  7.    Media pembelajaran meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berfikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya penyakit verbalisme.”

 

Dalam pendidikan, media difungsikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran. Karenanya, informasi yang terdapat dalam media harus dapat melibatkan siswa, baik dalam benak maupun mental dalam bentuk aktivitas yang nyata, sehingga pembelajaran dapat terjadi. Materi harus dirancang secara lebih sistematis dan psikologis, serta ditinjau dari segi prinsip-prinsip belajar agar dapat menyiapkan instruksi belajar yang efektif. Di samping menyenangkan dan memenuhi kebutuhan individu siswa, karena setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda.

Sudjana dan Rivai (1992;2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu:

1. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar;

  2. Bahan pembelajaran akan lebih jela maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran;

  3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga;

  4. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lain-lain.

 

Yudhi Munadi (2013:37-48) menuliskan Fungsi Media Pembelajaran adalah:

1. Fungsi Media Pembelajaran sebagai Sumber Belajar. Dalam kalimat ”sumber belajar” ini tersirat makna keaktifan, yakni sebagai penyalur, penyampai, penghubung dan lain-lain.

2. Fungsi Semantik Yakni kemampuan media dalam menambah perbendaharaan kata (simbol verbal) yang makna atau maksudnya benar-benar dipahami anak didik (tidak verbalistik). 

3. Fungsi Manipulatif, Fungsi manipulatif ini didasarkan pada ciri-ciri (karakteristik) umum yang dimilikinya sebagaimana disebut di atas. Berdasarkan karakteristik umum ini, media memiliki dua kemampuan, yakni mengatasi batas-batas ruang dan waktu dan mengatasi keterbatasan inderawi.

4. Fungsi Psikologis

a. Fungsi Atensi, Media pembelajaran dapat meningkatkan perhatian (attention)  siswa terhadap materi ajar. 

b. Fungsi Afektif  Fungsi afektif, yakni menggugah perasaan, emosi, dan tingkat penerimaan atau penolakan siswa terhadap sesuatu. 

c. Fungsi Kognitif,  Kemampuan media mengembangkan kemampuan kognitif siswa.

d. Fungsi Imajinatif, Imajinasi ini mencakup penimbulan atau kreasi objek-objek baru sebagai rencana bagi masa mendatang, atau dapat juga mengambil bentuk fantasi (khayalan) yang didominasi kuat sekali oleh pikiran-pikiran autistik. 

e. Fungsi Motivasi, Merupakan seni mendorong siswa untuk terdorong melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

5. Fungsi Sosio-Kultural Fungsi media dilihat dari sosio-kultural, yakni mengatasi hambatan sosio-kultural antarpeserta komunikasi pembelajaran. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki para siswa.”

 

Dari uraian dan pendapat beberapa ahli di atas, kita dapat melihat banya sekali manfaat dan fungsi media pembelajaran maka dapatlah disimpulkan beberapa manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut:

1.      Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.

2.      Media pembelajaran dapat meningkatkan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

3.      Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu.

4.   Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi lingkungan dengan guru, masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata, kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.

 

3.4. Jenis-jenis Media Pembelajaran

Bila dilihat dari intensitasnya, maka indera yang paling banyak membantu manusia dalam perolehan pengetahuan dan pengalaman adalah indera pendengaran dan indera penglihatan. Yudhi Munadi dalam Modul Perangkat dan Media Pembelajaran  menyebutkan media dalam proses pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi 4 Kelompok Besar yaitu :

1.    Media audio adalah media yang hanya melibatkan indera pendengaran dan hanya mampu memanipulasi kemampuan suara semata. Dilihat dari sifat pesan yang diterimanya media audio ini menerima pesan verbal dan non verbal. Pesan verbal audio yakni bahasa lisan atau kata-kata, dan pesan nonverbal audio adalah seperti bunyibunyian dan vokalisasi, seperti gerutuan, gumam, musik, dan lain-lain. Jenis-jenis media yang termasuk media ini adalah program radio dan program media rekam (software), yang disalurkan melalui hardware seperti radio dan alat-alat perekam seperti phonograph record (disc recording), audio tape (tape recorder) yang menggunakan pita magnetik (cassette), dan compact disk.

2.    Media visual adalah media yang hanya melibatkan indera penglihatan. Termasuk dalam jenis media ini adalah media cetak-verbal, media cetak-grafis, dan media visual non-cetak. Pertama, media visual-verbal, adalah media visual yang memuat pesan-pesan verbal (pesan linguistik berbentuk tulisan). Kedua, media visual-nonverbal-grafis adalah media visual yang memuat pesan nonverbal yakni berupa simbol-simbol visual atau unsur-unsur grafis, seperti gambar (sketsa, lukisan, dan photo), grafik, diagram, bagan, dan peta.

3.    Media visual nonverbal-tiga dimensi adalah media visual yang memiliki tiga dimensi, berupa model, seperti miniatur, mock up, specimen, dan diorama. Jenis media visual yang pertama dan kedua bisa dibuat dalam bentuk media cetak seperti buku, majalah, koran, modul, komik, poster dan atlas; bisa juga dibuat di atas papan visual seperti papan tulis dan papan pamer (display board); dan bisa dibuat dalam bentuk tayangan, yakni melalui projectable aids atau alat-alat yang mampu memproyeksikan pesan-pesan visual, seperti opaque projector, OHP (overhead projector), digital projector (biasa disebut sebagai LCD atau Infocus). Media audio visual adalah media yang melibatkan indera pendengaran dan penglihatan sekaligus dalam satu proses.

4.    Multimedia yakni media yang melibatkan berbagai indera dalam sebuah proses pembelajaran. Termasuk dalam media ini adalah segala sesuatu yang memberikan pengalaman secara langsung bisa melalui komputer dan internet, bisa juga melalui  pengalaman berbuat dan pengalaman terlibat. Termasuk dalam pengalaman berbuat adalah lingkungan nyata dan karyawisata; sedangkan termasuk dalam pengalaman terlibat adalah permainan dan simulasi, bermain peran dan forum teater.

            Dari Jenis media pembelajaran di atas penulis akan memakai media multimedia sebagai media pembelajaran yang diharapkan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yakni media infokus dengan menggunakan power point. Diharapkan dengan penggunaan media tersebut peserta didik memiliki minat dan motivasi untuk mengikuti pelajaran sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa media pembelajaran berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik.

 

4.  Hasil Belajar Peserta Didik

     4.1. Pengertian Hasil Belajar

Untuk mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan penyampaian materi pembelajaran, setiap guru mempunyai paham dan filsafatnya masing-masing. Seorang guru mempunyai cara untuk melihat keberhasilan mengajar dari hasil belajar siswa itu sendiri.

Menurut Slameto (2010:50) menyatakan bahwa Hasil belajar merupakan indikator untuk mengukur keberhasilan siswa dalam proses belajar. Selanjutnya Purwanto (2008:46-47) Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh individu setelah proses belajar berlangsung, yang dapat memberikan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap dan keterampilan siswa sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Sehubungan dengan itu Istarani (2015:19) hasil belajar adalah suatu pernyataan yang jelas dan menunjukkan penampilan atau keterampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar.

Dari pendapat para ahli diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa hasil belajar merupakan indikator untuk mengukur keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar serta kemampuan yang diperoleh individu setelah proses belajar berlangsung dan tingkat keberhasilan murid dalam mempelajari pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil test mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu baik yang dapat memberikan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap dan keterampilan siswa sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya.

 

4.2.Faktor-faktor  yang Mempengaruhi Hasil Belajar

a.      Faktor Internal

Untuk memperoleh nilai yang tinggi atau hasil yang baik tidaklah mudah, karena belajar adalah merupakan aktifitas yang berlangsung dalam suatu proses yang kompleks dan rumit. Munadi (2008:24-35) : “mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar ada dua jenis, yaitu faktor internal (dalam) dan faktor eksternal (luar).

1.      Faktor Internal

a.       Faktor Fisiologis

Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dan sebagainya, semuanya akan membantu dalam proses dan hasil belajar. Demikian juga kondisi saraf pengontrol kesadaran dapat berpengaruh pada proses dan hasil belajar. Disamping kondisi-kondisi di atas, merupakan hal yang penting juga memperhatikan kondisi pancaindera. Karena kondisi pancaindera tersebut akan memberikan pengaruh pada proses dan hasil belajar.

b.      Faktor Psikologis

Setiap manusia atau anak memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda. Beberapa faktor psikologis yang dapat diuraikan di antaranya meliputi : intelegensi (kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif, kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, dan kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali), perhatian (keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa semata-mata tertuju kepada suatu objek ataupun sekumpulan objek), minat dan bakat (kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan), motif & motivasi (sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu), kognitif dan daya nalar (persepsi, mengingat, dan berpikir).

 

b. Faktor Eksternal

Proses belajar didorong oleh motivasi intrinsik siswa. Disamping itu, proses belajar juga dapat terjadi, atau menjadi bertambah kuat, bila didorong oleh lingkungan siswa. Program pembelajaran sebagai pendidik guru disekolah merupakan faktor eksternal belajar. Ditinjau dari segi siswa, maka ditemukan beberapa faktor ekstern yang berpengaruh pada hasil belajar.

Menurut Munadi (2008:31-32) : faktor eksternal tersebut adalah sebagai berikut:

1.      Faktor Lingkungan

Kondisi lingkungan juga mempengaruhi proses dan hasil belajar. Lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik atau alam dan dapat pula berupa lingkungan sosial. Lingkungan sosial baik yang berwujud manusia maupun hal-hal lainnya, juga dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar.

2.      Faktor Instrumental

Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Fakor ini diharapkan  dapat berfungsi sebagai saranan untuk tercapainya tujuan-tujuan belajar yang telah direncanakan. Faktor instrumental ini dapat berupa kurikulum, sarana dan fasilitas, dan guru.

 

Sehubungan dengan itu Sabri (2010:45) mengatakan : “faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah faktor dari diri siswa itu sendiri dan lingkungan siswa”. Faktor yang datang dari diri siswa dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor  kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Dengan ini bahwa faktor kemampuan yang dimiliki siswa juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial, ekonomi, dan faktor fisik dan psikis.

Selanjutnya Djamarah (2010:118) mengatakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa yaitu : tujuan, guru, anak didik, kegiatan pengajaran, bahan dan  evaluasi serta suasana evaluasi.

Dari pendapat para ahli diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa yang menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar ada dua, yaitu : faktor internal, seperti : faktor psikologis dan fisiologi dan faktor eksternal, seperti : faktor lingkungan dan instrumental. Dan keduanya dicakup menjadi faktor yang berasal dari individu (dalam diri anak) dan faktor yang berasal dari lingkungan.

 

Dalam Kitab Perjanjian Baru, Tuhan Yesus sebagai Guru Agung, dalam setiap pengajaran-Nya sering memakai atau menggunakan alat peraga sebagai media pengajaran-Nya. Misalnya , Ketika Tuhan Yesus mengajar tentang apa yang layak diberikan kepada Tuhan, Ia menggunakan mata uang sebagai alat peraga (Matius 22:19-20); Dia memakai seorang anak untuk mengajar tentang sikap hati yang patuh (Matius 18: 2); Dia juga menggunakan pohon ara untuk mengajarkan pelajaran tentang iman (Matius 21 : 19) , dan masih banyak lagi contoh Tuhan Yesus dalam memanfaatkan media alat peraga dalam pengajaran - Nya.

Sebagai Guru, Tuhan Yesus selalu mencari dan menemukan berbagai cara dalam mengajar, serta dalam menghadapi berbagai situasi pendengar - Nya dengan media atau alat peraga untuk menyampaikan pesan atau maksud pengajaran-Nya, sehingga pengajaran - Nya lebih menarik dan dapat diterima dengan baik. Salah satu contoh pengajaranTuhan Yesus yang terkenal adalah dengan perumpamaan.

Tuhan Yesus menggambarkan kasih Bapa dalam perumpamaan lainnya. "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?" (Matius 18:12-14; lihat juga Lukas 15:4-7). Karena Ia tahu bahwa mereka adalah gembala dan domba, maka pendengar-Nya segera membayangkan seekor domba yang tidak patuh yang sedang dicari oleh gembalanya yang baik, dan mereka menangkap pandangan tentang Tuhan.

Dia juga memberikan ilustrasi tentang kebenaran yang sama dengan menceritakan seorang wanita yang dengan cermat mencari uangnya yang hilang dan juga seorang ayah yang dengan sabar menunggu anaknya yang memberontak dalam perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15:8-32).

Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang mecakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris (sudjana, 2005). Untuk mengetahui hasil belajar siswa, dibutuhkan penilaian sebagai hasil akhir dari hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam penilaian hendaknya diperiksa sejauh mana perubahan tingkah laku siswa telah terjadi melalui proses belajarnya.

5. Karakteristik Perkembangan Peserta Didik Usia Remaja

    6.1. Pengertian Karakter

            Karakter merupakan unsur pokok dalam diri manusia yang dengannya membentuk karakter psikologi seseorang dan membuatnya berperilaku sesuai dengan dirinya dan nilai yang cocok dengan dirinya dalam kondisi yang berbeda- beda.Berbagai definisi istila atau term dari karakter itu sendiri para tokoh dan ulama telah menjelaskannya, diantaranya adalah sebagai berikut:

            Zubaedi (2015:12) mengatakan :

Kata karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti "to mark" (menandai) dan memfokuskan, bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Oleh sebab itu, seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara seoarang yang berperilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah karakter erat kaitanya dengan personality (kepribadian) seseorang. Seseorang bisa disebut orang yang berkarakter (a person of character) apabila perilakunya sesuai dengan kaidah moral.

 

Dengan demikian yang disebut karakter adalah watak perangai sifat dasar yang khas satu sifat atau kualitas yang tetap terus menerus dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seorang pribadi.

Berikut adalah berbagai kelompok generasi mulai dari baby boomers sampai dari generasi Alpha (https://www.liputan6.com/lifestyle/read/3677417/kenali-karakter-dan-pola-pikir-5-generasi-ini-agar-semakin-bijak).

a. Baby Boomers (1946 - 1960)

Generasi Baby Boomers lahir pada masa-masa mempertahankan kemerdekaan dan berbagai perang yang telah berakhir sehingga perlu menata kehidupan bernegara. Alih-alih bergantung pada orang tua, generasi ini cenderung hidup mandiri. Mereka memegang teguh adat istiadat sehingga cenderung kolot, namun sangat matang dalam pengambilan keputusan karena pengalaman kehidupan yang pernah dilalui.

Generasi ini cenderung tidak suka menerima kritik, sedangkan uang dan pengakuan dari lingkungan adalah target mereka. Umumnya, gengsi menjadi urutan pertama dalam kehidupan sosial. Meskipun begitu mereka mencari uang untuk keluarga, yaitu bekerja keras untuk mensejahterahkan anak-anak. loyalitas dan dedikasi dalam bekerja menjadi poin positif bagi Baby Boomers.

Generasi Baby Boomers sangat peduli terhadap keturunannya, mereka tidak ingin anak-anaknya merasakan kesusahan yang dirasakannya saat masa-masa kemerdekaan. Oleh karena itu, mereka cenderung menghabiskan penghasilannya untuk membeli tanah, rumah, kendaraan dan sisanya ditabung sebagai warisan untuk anaknya nanti.

Beruntunglah, jika orang tua Anda termasuk generasi Baby Boomers yang sukses dan berpikiran ke depan sehingga  sudah dipersiapkan oleh mereka rencana untuk warisan. Ingatlah, untuk selalu menggunakan dengan bijak harta warisan dari orang tua, supaya anak cucu Anda nantinya juga bisa menikmatinya.

b. Generasi X (Tahun Kelahiran 1961-1980) 

Berkat warisan dan didikan generasi sebelumnya, generasi X mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Oleh sebab itu, pemikiran mereka sedikit lebih maju. Mereka cenderung suka akan risiko dengan pengambilan keputusan yang matang.

Dibanding Generasi sebelumnya, Generasi X sangat terbuka dengan kritik dan saran demi terwujudnya efisiensi dalam bekerja. Kehidupan antara pekerjaan, pribadi dan keluarga cenderung seimbang karena pemikiran bekerja untuk hidup bukan hidup untuk bekerja.

Generasi X masih mengadopsi karakter dari orang tuanya yang mencari uang demi keluarga, bedanya mereka mulai akrab dengan investasi. Berkat didikan generasi Baby Boomers, generasi ini memiliki ketekunan dalam bekerja, mereka ingin lebih sukses dari sehingga sebagian dari mereka juga mulai memiliki jiwa pengusaha. Apalagi, generasi ini mulai mengenal yang namanya komputer sehingga mulai berpikir secara inovatif untuk mempermudah kehidupan manusia.

Orang yang terlahir di generasi X, mulai sadar akan pentingnya dana pensiun untuk masa depan sehingga mereka cenderung menggunakan uang yang dimiliki untuk modal usaha, biaya anak, membeli kendaraan dan membeli properti.

c. Generasi Y – Generasi Millennial (Tahun Kelahiran 1981-1994)

Generasi Y atau yang lebih akrab dengan sebutan generasi millenial adalah generasi yang lahir di saat teknologi sedang berkembang pesat. Kehadiran komputer, video games, gadget, dan smartphone yang tersambung dengan kecanggihan internet membuat generasi ini mudah mendapatkan informasi secara cepat dan sebagainya.

Dengan pendidikan yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya, generasi ini bisa dikatakan penuh ide-ide visioner, inovatif untuk melahirkan pengetahuan dan penguasaan IPTEK. Mereka cenderung ambisius dalam bekerja. Di samping kerja kantoran, sebagian juga membuka bisnis sendiri untuk menuju kesuksesan. Mereka memiliki jiwa entrepreneur yang tinggi.

Keseimbangan gaya hidup dan pekerjaan menjadi hal yang paling penting bagi mereka Generasi Y. Karenanya, mereka cenderung mencari pekerjaan yang dapat menunjang gaya hidup. Jika tidak, mereka cenderung berhenti dari pekerjaan tersebut.

Karena terlahir di era globalisasi, generasi milenial cenderung bersifat konsumtif.  Mereka banyak menghabiskan uang yang dimiliki untuk membeli gadget keluaran terbaru, membeli kendaraan, jalan-jalan dan kuliner. Namun, mereka mulai sadar akan pentingnya properti untuk keluarga, oleh karena itu banyak juga dari mereka yang mengambil KPR atau KTA untuk rumah maupun apartemen.

d. Generasi Z (Tahun Kelahiran 1995-2010)

Generasi Z sudah sangat mengenal teknologi. Sejak kecil, mereka lebih gemar bermain gadget dibandingkan permainan tradisional anak di era sebelumnya. Jadi, jangan heran kalau generasi Z cenderung menyukai sesuatu serba yang instan.

Begitu akrabnya dengan internet, generasi Z suka mencari popularitas dengan aktif di berbagai sosial media dengan style masing-masing. Jadi jangan heran mereka cenderung menghabiskan uangnya untuk keperluan fashion, makan di restoran terkenal dan jalan-jalan. Selain media sosial, Generasi ini sangat gemar melakukan transaksi belanja secara online karena dinilai praktis dan bisa dilakukan di mana saja.

Kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi, membuat generasi ini juga mudah untuk mendapatkan uang secara instan. Bukan hanya dari pemberian orang tua tapi hasil berselancar internet dengan media social dan kreativitas mereka masing-masing. Tak heran banyak anak yang belum kerja formal sudah memiliki penghasilan sendiri.

 

e. Generasi Alpha (2011-Sekarang)

Generasi ini terlahir dengan teknologi yang semakin berkembang pesat. Di usia mereka yang sangat dini, mereka sudah mengenal dan menggunakan gadget, smartphone dan kecanggihan teknologi yang ada. Terlahir dari keluarga dengan masa Generasi Y yang juga terlahir pada masa-masa awal perkembangan teknologi maka pola pikir mereka juga terbuka dengan perkembangan teknologi.

Saat ini, umur paling tua dari mereka adalah 7 tahun. Jadi, belum bisa diprediksi watak mereka dalam bekerja dan bagaimana kecenderungannya menghabiskan uang. Meskipun begitu, tidak sedikit dari mereka sudah bisa menjadi sumber penghasilan bagi orang tuanya berkat kemajuan media sosial. Dulu hanya anak artis dan publik figur saja yang bisa terkenal, kini anak kecil siapa saja yang lucu dan menarik bisa menjadi sorotan.”

            Dari Tipe generasi di atas kita melihat bahwa peserta didik dalam penelitian ini berada di generasi Z. Yang berada pada usia 13-14 tahun.  jadi sangat penting menyuguhan media pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan mereka misalnya dengan media multimedia seperti infokus dengan powerpoint.

Penggunaan media dalam pembelajaran sangat berpengaruh terhadap hasil belajar itu sendiri. Hal itu dapat kita lihat dari pendapat para ahli tentang peran dan fungsi media pembelajaran itu sendiri. Penggunaan media yang tepat tentu akan menumbuhkan minat dan motivasi belajar peserta didik dan tentunya sangat berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik itu sendiri. Ada banyak pilihan media pembelajaran yang bisa digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar khususnya dalam PBM Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti.

Di era revolusi 4.0 kita menghadapi kategori generasi Z dan Alpha yang lahir antara tahun 1995 –Sekarang.  Generasi Z dan Alpha lahir dan Hidup di zaman teknologi yang serba modern. Dari kecil mereka sudah mengenal teknologi seperti gadget. Bahkan mereka sudah mengenal internet. Jadi sudah saatnya dalam  proses belajar mengajar kita menggunkan media yang berbasis IT. Tentu kita bisa menampilkan gambar dan video yang tentu saja akan menarik minat belajar dan motivasi belajar peserta didik dan akan berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. Dan dalam mengantar materi yang menarik seorang guru bisa mendesain materi itu sedemikian rupa misalnya menampilkannya dalam bentuk power point. Dan semuanya itu akan sangat tertolong jika kita menggunakan media infokus dalam proses pembelajaran. Dengan penggunaan infokus kita bisa menampilkan banyak media pembelajaran seperti gambar dan video. Jadi melalui penelitian ini penulis ingin melihat pengaruh penggunaan Media Infokus dengan power point terhadap hasil belajar siswa.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto. 2013. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara

 

_______. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

 

 

Djahmarah, Syaiful Bahri. 2010. Srategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

 

Djamarah, Syaiful Bahri & Aswan Zain. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

 

Gerlach & Ely. www.duniaedukasi.net/2010/04.

 

Hadis, Abdul. 2008. Psikologi dalam Pendidikan. Bandung: Penerbit Alfabeta.

 

Hari Setiawan, 2004, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Gemilang Utama.

 

Hasibuan, JJ & Moedjiono. 2009. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya.

 

Iskandar W. & J. Mandalika. 1982. Kumpulan dan Pikiran-pikiran dalam Pendidikan. Jakarta: Rajawali.

 

Istarani. 2012.  Kumpulan 39 Metode Pembelajaran. Medan : CV ISCOM.

 

Januszewski dan Moleda. Instructional Technology end Media For Learning. Prentice Hall.

 

Kristanto, Paulus Lilik. Prinsip dan Praktek PAK Penuntun bagi Mahasiswa Teologi dan PAK, Pelayan Gereja, Guru Agama dan keluarga Kristen, Yogyakarta: ANDI Offset.

 

Liputan 6. (https://www.liputan6.com/lifestyle/read/3677417/kenali-karakter-dan-pola-pikir-5-generasi-ini-agar-semakin-bijak

 

Munadi. 2008. Media Pembelajaran. Jakarta : Gaung Persada Perss.

 

Nasution, S. (1982). Azas-azas Kurikulum. Bandung: Jemars.

 

Nurkanca, Wayan. 2005. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

 

Purwanto. 2008. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

 

Riyana, Cepy. 2012. Media Pembelajaran. Jakarta Pusat : Subdit Kelembagaan Direkotrat Pendidikan Tinggi Islam

 

Sabri, Ahmad. 2007. Strategi Belajar Mengajar Mengajar Micro Teaching. Ciputat : PT Ciputat Press.

 

Slameto, S. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta

 

Sudjana, N. 2005. Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya

 

Syamsul, Yusuf. 2000. Psikologi Perkembangan Anak dan remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Usman, Uzer. 1994. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

 

Zubaedi, 2015. Desain Pendidikan Karakter. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

iv

 

Rina Nainggolan, S.Pd.K

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar