PERAN MEDIA PEMBELAJARAN INFOKUS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
Peran guru sangat penting dalam Proses Belajar
Mengajar (PBM) di kelas mengingat untuk mengendalikan
kelas dan mengatur jalannya proses belajar mengajar guru harus mampu membangun
suasana kelas yang kondusif pada siswa guna tercapainya hasil pembelajaran yang maksimal. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan
pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan
dalam berbagai bentuk, seperti kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian,
pengetahuan. Hasil belajar diukur untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan
sehingga hasil belajar harus sesuai dengan tujuan pendidikan.
Tugas seorang guru dalam
menyampaikan materi pelajaran kepada siswa tidaklah mudah. Guru harus memiliki
berbagai kemampuan yang dapat menunjang tugasnya agar tujuan pendidikan dapat
dicapai. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam
meningkatkan kompetensi profesinya ialah kemampuan mengembangkan Media pembelajaran.
Dalam mengembangkan Media pembelajaran
seorang guru harus dapat menyesuaikan antara media yang dipilihnya dengan
kondisi siswa, materi pelajaran dan sarana yang ada. Oleh karena itu, guru
harus menguasai beberapa jenis media pembelajaran agar proses belajar mengajar
berjalan dengan lancar dan tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud.
Media pembelajaran
merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam
proses pembelajaran. Sebagai komponen, media pembelajaran hendaknya merupakan
bagian integral dan harus sesuai dengan proses pembelajaran secara menyeluruh.
Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian
semua pihak, terutama bagi guru sebagai fasilitator dalam setiap kegiatan
pembelajaran. Oleh karena itu tiap - tiap pendidik perlu mempelajari bagaimana
hakekat, arti dan manfaat media, serta dapat menetapkan /memilih media
pembelajaran yang tepat agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan
pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Rendahnya tingkat partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran dan
kurangnya kemampuan siswa untuk bertanya tentang materi yang dipelajari diasumsikan
sebagai akibat dari kurangnya minat siswa terhadap materi pembelajaran sehingga
hasil belajar juga kurang memuaskan.
Menurut Lautfer,
media pembelajaran adalah salah satu alat bantu mengajar untuk meningkatkan
kreatifitas dan perhatian siswa dalam proses pembelajaran. Dengan media diharap
siswa akan lebih termotivasi, imajinasi siswa dirangsang, perasaan disentuh dan
kesan yang dalam diperoleh siswa. Perhatian siswa terhadap materi pembelajaran
meningkat sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.
Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang
mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Sebagai komponen, media
pembelajaran hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai dengan proses
pembelajaran secara menyeluruh. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian
yang harus mendapat perhatian semua pihak, terutama bagi guru sebagai
fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu tiap - tiap
pendidik perlu mempelajari bagaimana hakekat, arti dan manfaat media, serta
dapat menetapkan /memilih media pembelajaran yang tepat agar dapat
mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Selanjutnya Sardiman
menyatakan bahwa, manfaat media pembelajaran dalam kegiatan mengajar secara
umum antara lain, dapat menarik dan memperbesar perhatian siswa terhadap materi
pengajaran yang disajikan, dapat mengatasi perbedaan pengalaman belajar
berdasarkan latar belakang sosial ekonomi, dan dapat membantu siswa dalam
memberikan pengalaman belajar yang sulit diperoleh dengan cara lain. Lebih
lanjut Sardiman menyatakan, media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan
ruang, waktu dan panca indra.
Peran media pembelajaran sebagai alat untuk menciptakan
proses mengajar dan belajar agar siswa dapat lebih cepat memahami materi
pelajaran yang digunakan. Dengan menggunakan media pembelajaran yang baik dalam proses
pembelajaran maka akan tercapai tujuan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran terdapat
beberapa cara atau media yang digunakan oleh guru guna mencapai hasil pembelajaran, yaitu media audio,media visual, media audio visual dan
multimedia. Multimedia yaki media yang melibatkan berbagai indera dalam sebuah
pembelajaran. Termasuk dalam media ini adalah segala sesuatu yang memberikan
pengalaman langsung bisa melalui komputer dan internet, bisa juga melalui
pengalaman berbuat dan pengalaman terlibat. Dalam penelitan ini penulis ingin
mengangkat media multimedia yakni Media pembelajaran infokus dengan power point
yang saya sebutkan di atas.
1.
Pengertian Belajar Mengajar
Belajar dan mengajar
merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Belajar
menunjuk kepada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai yang menerima
pelajaran (peserta didik) sedangkan menunjuk kegiatan apa yang harus dilakukan
oleh seorang guru yang menjadi pengajar.
Iskandar
(1982:37) menuliskan dalam Kumpulan dan Pikiran Pendidikan Proses Belajara Mengajar dapat diartikan hubungan antara pihak pengajar (guru) dan pihak yang di
ajar (siswa), sehingga terjadi suasana di mana pihak siswa aktif belajar dan
pihak guru aktif mengajar. Dengan demikian PBM ini merupakan proses
interaksi antara guru dengan murid atau peserta didik pada saat pengajaran.
Dalam proses interaksi,
ada unsur memberi dan menerima baik dari pihak guru / peserta didik, agar
terjadi interaksi belajar mengajar yang baik, ada beberapa faktor yang harus
dipenuhi, sedangkan hal-hal yang dapat dikemukakan sebagai dasar-dasar
terjadinya interaksi belajar mengajar yang baik ada beberapa faktor yang harus
dipenuhi.
Proses belajar
mengajar merupakan inti dari proses proses pendidikan secara keseluruhan dengan
guru sebagai pemegang peran utama. Peristiwa belajar mengajar banyak berakar
pada berbagai pandangan dan konsep. Oleh karena itu perwujudan proses belajar
mengajar dapat terjadi dalam berbagai model dengan menggunakan berbagai metode
dan media pembelajaran. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang
mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal
balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.
Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa merupakan syarat
utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.
Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti yang lebih luas,
tidak sekedar hubungan antara guru dan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif.
Dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan
penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar.
Proses belajar mengajar memiliki makna dan pengertian yang lebih luas daripada
pengertian mengajar semata. Dalam
proses belajar mengajar tersirat adanya suatu kesatuan kegiatan yang tak
terpisahlam antara sisiwa yang belajar dan guru yang mengajar. Antara kedua
kegiatan ini terjadi interaksi yang saling menunjang.
2. Strategi Belajar
Mengajar
Istilah strategi berasal
dari bahasa Yunani yaitu strategos yang artinya suatu usaha untuk
mencapai kemenangan dalam suatu peperangan. Isilah strategi ini, selanjutnya
digunakan dalam berbagai bidang yang memiliki esensi yang relatif sama termasuk
diadopsi dalam konteks pembelajaran yang dikenal dengan istilah strategi
pembelajaran. Dikaitkan dengan belajar mengajar, strategi dapat diartikan
sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan
belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Syaiful Bahri
1995:5).
Mengajar adalah
penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar.
Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi,
yakni tujuan instruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan
sisiwa yang harus memainkan peranan serta ada dalam hubungan sosial tertentu,
jenis kegiatan yang dilakukan serta sarana dan prasarana yang tersedia.
J.J
Hasibuan dan Moedjiono (2009:3)
Mengatakan bahwa :
“Strategi belajar Mengajar adalah
pola umum perbuatan guru murid di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar.
Pengertian strategi dalam hal ini menunjukkan pada karakteristik abstral dari
rentetan-rentetan perbuatan guru murid dalam suatu peristiwa belajar mengajar
aktual tertentu, dinamakan prosedur instruksional”
Di dalam sejarah dunia pendidikan guru
merupakan sosok figur teladan bagi siswa/i yang harus memiliki strategi dan
teknik-teknik dalam mengajar. Kegiatan belajar mengajar sebagai sistem
intruksional merupakan interaksi antara siswa dengan komponen-komponen lainnya,
dan guru sebagai pengelola kegiatan pembelajaran agar lebih aktif dan efektif
secara optimal. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah menguasai
teknik-teknik penyajian, atau biasanya di sebut metode mengajar. Teknik
penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara mengajar yang
dipergunakan oleh guru atau insturktur kepada siswa di dalam kelas agar
pelajaran itu dapat ditangkap, dipahami dan digunakan siswa dengan baik. Maka, yang disebut
dengan strategi belajar mengajar ialah memikirkan dan mengupayakan konsistansi
aspek-aspek komponen pembentuk kegiatan sistem intruksional dengan siasat
tertentu. Strategi Belajar Mengajar adalah pola-pola umum kegiatan guru – anak
didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
Strategi belajar mengajar sangat penting untuk mencapai tujuan belajar
mengajar yang sesuai dengan keinginan pendidik dan peserta didik. Strategi
belajar mengajar merupakan pola-pola umum kegiatan belajar mengajar untuk
mencapai tujuan yang telah digariskan. Tidak hanya tujuan dari guru, tetapi
juga tujuan dari peserta didik yang menjadi subjek dan objek dalam pendidkan.
Strategi belajar yang meliputi metode dan teknik dalam pembelajaran harus
dilakukan secaa optimal. Jangan hanya mengira bahwa strategi belajar mengajar
terpusat pada metode pembelajaran saja, teknik belajar pun juga sangat
menentukan dalam pencapaian tujuan pendididkan. Komponen startegi belajar
tersebut pun harus didukung oleh komponen pembelajaran lainnya. Semuanya harus
saling mempengaruhi. Jadi strategi belajar yang tidak hanya dikembangkan oleh
pendidik tetapi peserta didikpun juga harus mengembangkan strategi belajar
mengajar mereka.
Menurut
pengertian di atas strategi belajar
mengajar adalah suatu kegiatan edukatif antara guru dan anak didik,
interaksi yg bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang
dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan
sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan
pengajaran secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatu guna
kepentingan pembelajaran. Sehingga bahan
pelajaran yang disampaikan guru dapat difahami dan
diaplikasikan siswa dengan tuntas.
Strategi Belajar Mengajar adalah cara atau prosedur yang dilakukan dan
digunakan oleh guru untuk mencapai
tujuan pembelajaran baik itu metode dan media pembelajaran yang digunakan oleh
guru. Ada banyak media dan metode yang bisa digunakan oleh guru dalam proses
belajar mengajar sehingga menumbuhkan motivasi dna minat belajar peserta didik
yang tentu sangat berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik.
Dalam
dalam penelitian ini peneliti lebih terfokus kepada media pembelajaran sebagai
strategi belajar mengajar yang digunakan dalam meningkatkan hasil belajar
peserta didik. Berkaitan
dengan strategi pengajaran yang memadukan teknologi dan media, Januszewski dan
Molenda, (2008:1), mengemukakan teknologi pendidikan adalah kajian dan praktek
etis untuk memfasilitasi belajar dan dan memperbaiki kinerja dengan
menciptakan, mengunakan, dan mengelola proses dan sumber teknologi yang
sesuai. Sedangkan media pengajaran atau pendidikan adalah segala bentuk
peralatan fisik komunikasi berupa hardware dan sofwere merupakan bagian kecil
dari teknologi pembelajaran yang harus diciptakan (didesain dan dikembangkan),
digunakan, dan dikelola (dievaluasi) untuk kebutuhan pembelajaran dengan maksud
untuk mencapai efektifitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan semua uraian di atas, strategi
pengajaran dengan memadukan teknologi dan media dapat dijelaskan sebagai segala
bentuk kajian dan praktek etis yang mengunakan peralatan fisik komunikasi
berupa hardware dan sofwere untuk memfasilitasi belajar dan memperbaiki kinerja
dengan menciptakan, mengunakan, dan mengelola proses dan sumber teknologi yang
sesuai. Dalam menentukan strategi pengajaran dengan memadukan teknologi dan
media dalam aktivitas pembelajaran tentunya harus mempertimbangkan berbagai
factor, karena mengingat penggunaan teknologi yang berpengaruh
memungkinkan terhadap kecepatan transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta
didik. Selain itu, hal ini akan mempengaruhi hasil belajar siswa, usia siswa
dan juga kenyamanan menerapkan strategi yag digunakan. Maka bagi pendidik harus
selektif pada pilihannya dan menggunakan berbagai pendekatan yang
membantu peserta didik untuk mencapai
hasil belajar yang diharapkan.
3. Media
Pembelajaran
3.1. Pengertian Media Pembelajaran
Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, media pembelajaran sebenarnya
bukan hal yang baru. Media
pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan
sangat penting dalam proses pembelajaran. Pemanfaatan media seharusnya
merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru PAK sebagai fasilitator
dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu tiap-tiap pendidik perlu
mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan
pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Pada kenyataannya media
pembelajaran masih sering terabaikan dengan berbagai alasan, diantaranya:
terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar bagi guru sebagai pendidik,
kesulitan untuk mencari model dan jenis media yang tepat, keterbatasan biaya
yang sebagian dikeluhkan, dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi
jika setiap pendidik telah mempunyai pengetahuan, pemamahan dan ketrampilan
mengenai media pembelajaran.
Kata media berasal dari bahasa latin ”medio”. Dalam bahasa latin media dimaknai sebagai antara. Media merupakan bentuk
jamak dari medium yang secara harfiah berarti pengantara atau pengantar. Secara khusus kata tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang
digunakan untuk membawa informasi dari satu sumber kepada penerima.
Kata “media” berasal dari bahasa Latin Medius yang secara harfiah
berarti tengah, perantara, atau pengantar. Menurut KBBI, media dapat
diartikan sebagai perantara, penghubung; alat (sarana) komunikasi seperti
koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk; yang terletak
diantara dua pihak (orang, golongan, dan sebagainya) . Istilah media berasal dari bahasa latin yang
merupakan bentuk jamak dari medium. Secara harfiah berarti perantara atau
pengantar. Pengertian umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan
informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.
Beberapa pakar/ahli
media menyatakan definisi media dengan berbagai batasan-batasan tertentu. Gagne
mengartikan media sebagai berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang
dapat merangsang siswa untuk belajar. Sedangkan, Heinich, Molenda, dan Russel
menyatakan bahwa : “A medium (plural media) is a channel of communication,
example include film, television, diagram, printed materials, computers, and
instructors. (Media adalah saluran komunikasi termasuk film, televisi, diagram,
materi tercetak, komputer, dan instruktur) batasan media sebagai segala bentuk
saluran yang dipergunakan untuk menyampaikan memberikan pesan atau
informasi. NEA (National Education Assosiation) memberikan batasan media
sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak, audio visual, serta
peralatanya.
Dari beberapa batasan di
atas maka dapat disimpulkan bahwa media merupakan segala sesuatu yang dapat
dipergunakan untuk meyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, dapat
membangkitkan semangat, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong
terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa.
Sedangkan “pembelajaran”
merupakan bentuk jamak dari kata belajar yang mempunyai kata dasar “ajar”. Ajar
menurut KBBI adalah petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui
(diturut), belajar merupakan suatu usaha untuk memperoleh kepandaian/ilmu. Istilah
pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru/pendidik untuk membuat para peserta
didik melakukan proses belajar. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak
menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya. Kegiatan belajar hanya akan
berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Seorang
guru tidak dapat mewakili belajar siswanya. Seorang siswa belum dapat dikatakan
telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru yang
sedang mengajar. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat
siswa belajar. Peran yang seharusnya dilakukan guru adalah mengusahakan agar
setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber belajar yang ada.
Dengan demikian media
pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi
alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar
ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media
pembelajaran dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajiakan informasi
belajar kepada siswa, jika program media itu didesain dan dikembangkan dengan
baik.
3.2. Kedudukan Media dalam Sistem Pembelajaran
Pembelajaran
dikatakan sebagai sebuah sistem karena di dalamnya mengandung komponen yang
saling berkaitan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.
Komponen-komponen tersebut meliputi: tujuan, materi, metode, media dan
evaluasi. Cepy Riyana (2012:9) menggambarkan sistem pembelajaran sebagai
berikut:
PEMBELAJARAN EVALUASI METODE MEDIA TUJUAN MATERI
Dari gambar di atas kita bisa melihat kedudukan Media
dalam pembelajaran. Dalam Pembelajaran
terdapat Tujuan Pembelajaran, Materi, Metode, Media dan Evalusi. Kesemuanya
memiliki peran dalam keberhasilan pembelajaran dan saling terkait satu sama
lain. Media Pembelajaran setara dengan Metode pembelajaran. Metode yang
digunakan dalam proses pembelajaran biasanya akan menuntut media apa yang dapat
diintegrasikan dan diadaptasikan dengan kondisi yang dihadapi.
3.3. Fungsi dan Peran Media Pembelajaran
Dalam
suatu proses belajar mengajar, dua unsur amat penting adalah metode mengajar
dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu
metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang
sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam
memilih media, antara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respons yang
diharapkan siswa kuasai setelah pembelajaran berlangsung, dan konteks
pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan
bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu
mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang
ditata dan diciptakan oleh guru.
Pemakaian media pembelajaran dalam proses
belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru,
membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa
pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada
tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses
pembelajaran dan penyampaian pesan serta isi pelajaran pada saat itu. Selain
membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu
siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan tepercaya,
memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.
Cepy Riyana
(2012:14), dalam kaitannya dengan fungsi Media Pembelajaran dapat ditekankan
beberapa hal sebagai berikut:
“ 1. Penggunaan
media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi memiliki fungsi
tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang
lebih efektif.
2. Media
pembelajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran.
Hal ini mengandung pengertian bahwa media pembelajaran sebagai salah satu
komponen yang tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan dengan komponen
lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan.
3. Media
pembelajaran dalam penggunaannya harus relevan dengan kompetensi yang ingin
dicapai dan isi pembelajaran itu sendiri. Fungsi ini mengandung makna bahwa
penggunaan media dalam pembelajaran harus selalu melihat kepad kompetensi dan
bahan ajar.
4. Media
pembelajaran bukan berfungsi sebagai alat hiburan, dengan demikian tidak
diperkenankan menggunakannya hanya sekedar untuk permainan atau memancing
perhatian siswa semata.
5. Media
pembelajaran bisa berfungsi untuk mempercepat proses belajar. Fungsi ini
mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran siswa dapat menangkap tujuan
dan bahan ajar lebih mudah dan lebih cepat.
6. Media
pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar.
Pada umumnya hasil belajar siswa dengan menggunakan media pembelajaran akan
tahan lama mengendap sehingga kualitas pembelajaran memiliki nilai yang tinggi.
7. Media
pembelajaran meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berfikir, oleh karena
itu dapat mengurangi terjadinya penyakit verbalisme.”
Dalam pendidikan, media difungsikan sebagai sarana untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Karenanya, informasi yang terdapat dalam media
harus dapat melibatkan siswa, baik dalam benak maupun mental dalam bentuk
aktivitas yang nyata, sehingga pembelajaran dapat terjadi. Materi harus
dirancang secara lebih sistematis dan psikologis, serta ditinjau dari segi
prinsip-prinsip belajar agar dapat menyiapkan instruksi belajar yang efektif. Di
samping menyenangkan dan memenuhi kebutuhan individu siswa, karena setiap siswa
memiliki kemampuan yang berbeda.
Sudjana dan Rivai (1992;2) mengemukakan manfaat media
pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu:
“ 1. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar;
2. Bahan pembelajaran akan lebih jela maknanya sehingga dapat lebih
dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan
pembelajaran;
3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi
verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan
guru tidak kehabisan tenaga;
4. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak
hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati,
melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lain-lain.”
Yudhi Munadi (2013:37-48)
menuliskan Fungsi Media Pembelajaran adalah:
“1. Fungsi
Media Pembelajaran sebagai Sumber Belajar. Dalam kalimat ”sumber belajar” ini
tersirat makna keaktifan, yakni sebagai penyalur, penyampai, penghubung dan
lain-lain.
2. Fungsi
Semantik Yakni kemampuan media dalam menambah perbendaharaan kata (simbol
verbal) yang makna atau maksudnya benar-benar dipahami anak didik (tidak
verbalistik).
3. Fungsi
Manipulatif, Fungsi manipulatif ini didasarkan pada ciri-ciri (karakteristik)
umum yang dimilikinya sebagaimana disebut di atas. Berdasarkan karakteristik
umum ini, media memiliki dua kemampuan, yakni mengatasi batas-batas ruang dan
waktu dan mengatasi keterbatasan inderawi.
4. Fungsi
Psikologis
a. Fungsi
Atensi, Media pembelajaran dapat meningkatkan perhatian (attention) siswa terhadap materi ajar.
b. Fungsi
Afektif Fungsi afektif, yakni menggugah
perasaan, emosi, dan tingkat penerimaan atau penolakan siswa terhadap
sesuatu.
c. Fungsi
Kognitif, Kemampuan media mengembangkan
kemampuan kognitif siswa.
d. Fungsi
Imajinatif, Imajinasi ini mencakup penimbulan atau kreasi objek-objek baru
sebagai rencana bagi masa mendatang, atau dapat juga mengambil bentuk fantasi
(khayalan) yang didominasi kuat sekali oleh pikiran-pikiran autistik.
e. Fungsi
Motivasi, Merupakan seni mendorong siswa untuk terdorong melakukan kegiatan
belajar sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
5. Fungsi Sosio-Kultural
Fungsi media dilihat dari sosio-kultural, yakni mengatasi hambatan
sosio-kultural antarpeserta komunikasi pembelajaran. Media pembelajaran dapat
mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki para siswa.”
Dari uraian dan pendapat beberapa ahli di atas, kita dapat melihat banya sekali manfaat dan fungsi
media pembelajaran maka dapatlah disimpulkan beberapa
manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar
mengajar sebagai berikut:
1.
Media pembelajaran dapat
memperjelas penyajian dan informasi sehingga dapat memperlancar dan
meningkatkan proses dan hasil belajar.
2.
Media pembelajaran dapat
meningkatkan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi
belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan
kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan
minatnya.
3.
Media pembelajaran dapat
mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu.
4. Media pembelajaran
dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa
di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi lingkungan dengan
guru, masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata,
kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.
3.4. Jenis-jenis Media Pembelajaran
Bila dilihat dari
intensitasnya, maka indera yang paling banyak membantu manusia dalam perolehan
pengetahuan dan pengalaman adalah indera pendengaran dan indera penglihatan.
Yudhi Munadi dalam Modul Perangkat dan Media Pembelajaran menyebutkan media dalam proses pembelajaran
dapat dikelompokkan menjadi 4 Kelompok Besar yaitu :
1. Media
audio adalah media yang hanya melibatkan indera pendengaran dan hanya mampu
memanipulasi kemampuan suara semata. Dilihat dari sifat pesan yang diterimanya
media audio ini menerima pesan verbal dan non verbal. Pesan verbal audio yakni
bahasa lisan atau kata-kata, dan pesan nonverbal audio adalah seperti
bunyibunyian dan vokalisasi, seperti gerutuan, gumam, musik, dan lain-lain.
Jenis-jenis media yang termasuk media ini adalah program radio dan program
media rekam (software), yang disalurkan melalui hardware seperti radio dan
alat-alat perekam seperti phonograph record (disc recording), audio tape (tape
recorder) yang menggunakan pita magnetik (cassette), dan compact disk.
2. Media
visual adalah media yang hanya melibatkan indera penglihatan. Termasuk dalam
jenis media ini adalah media cetak-verbal, media cetak-grafis, dan media visual
non-cetak. Pertama, media visual-verbal, adalah media visual yang memuat
pesan-pesan verbal (pesan linguistik berbentuk tulisan). Kedua, media
visual-nonverbal-grafis adalah media visual yang memuat pesan nonverbal yakni
berupa simbol-simbol visual atau unsur-unsur grafis, seperti gambar (sketsa,
lukisan, dan photo), grafik, diagram, bagan, dan peta.
3. Media
visual nonverbal-tiga dimensi adalah media visual yang memiliki tiga dimensi,
berupa model, seperti miniatur, mock up, specimen, dan diorama. Jenis media
visual yang pertama dan kedua bisa dibuat dalam bentuk media cetak seperti
buku, majalah, koran, modul, komik, poster dan atlas; bisa juga dibuat di atas
papan visual seperti papan tulis dan papan pamer (display board); dan bisa
dibuat dalam bentuk tayangan, yakni melalui projectable aids atau alat-alat
yang mampu memproyeksikan pesan-pesan visual, seperti opaque projector, OHP
(overhead projector), digital projector (biasa disebut sebagai LCD atau
Infocus). Media audio visual adalah media yang melibatkan indera pendengaran
dan penglihatan sekaligus dalam satu proses.
4. Multimedia
yakni media yang melibatkan berbagai indera dalam sebuah proses pembelajaran.
Termasuk dalam media ini adalah segala sesuatu yang memberikan pengalaman
secara langsung bisa melalui komputer dan internet, bisa juga melalui pengalaman berbuat dan pengalaman terlibat.
Termasuk dalam pengalaman berbuat adalah lingkungan nyata dan karyawisata;
sedangkan termasuk dalam pengalaman terlibat adalah permainan dan simulasi,
bermain peran dan forum teater.
Dari
Jenis media pembelajaran di atas penulis akan memakai media multimedia sebagai
media pembelajaran yang diharapkan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa
yakni media infokus dengan menggunakan power point. Diharapkan dengan
penggunaan media tersebut peserta didik memiliki minat dan motivasi untuk
mengikuti pelajaran sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik
sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa media pembelajaran berpengaruh terhadap
hasil belajar peserta didik.
4. Hasil Belajar
Peserta Didik
4.1. Pengertian
Hasil Belajar
Untuk mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan penyampaian materi
pembelajaran, setiap guru mempunyai paham dan filsafatnya masing-masing.
Seorang guru mempunyai cara untuk melihat keberhasilan mengajar dari hasil
belajar siswa itu sendiri.
Menurut Slameto (2010:50) menyatakan bahwa Hasil
belajar merupakan indikator untuk mengukur keberhasilan siswa dalam proses
belajar. Selanjutnya Purwanto (2008:46-47) Hasil
belajar merupakan kemampuan yang diperoleh individu setelah proses belajar
berlangsung, yang dapat memberikan perubahan tingkah laku baik pengetahuan,
pemahaman, sikap dan keterampilan siswa sehingga menjadi lebih baik dari
sebelumnya.
Sehubungan
dengan itu Istarani (2015:19) hasil belajar adalah suatu pernyataan yang jelas
dan menunjukkan penampilan atau keterampilan siswa tertentu yang diharapkan
dapat dicapai sebagai hasil belajar.
Dari pendapat para ahli diatas, penulis dapat
menyimpulkan bahwa hasil belajar merupakan indikator untuk mengukur
keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar serta kemampuan yang diperoleh
individu setelah proses belajar berlangsung dan tingkat keberhasilan murid
dalam mempelajari pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang
diperoleh dari hasil test mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu baik yang
dapat memberikan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap dan
keterampilan siswa sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya.
4.2.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
a. Faktor Internal
Untuk memperoleh nilai yang tinggi atau hasil yang baik
tidaklah mudah, karena belajar adalah merupakan aktifitas yang berlangsung
dalam suatu proses yang kompleks dan rumit.
Munadi (2008:24-35) : “mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
belajar ada dua jenis, yaitu faktor internal (dalam) dan faktor eksternal
(luar).
1. Faktor Internal
a.
Faktor
Fisiologis
Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan
yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat
jasmani, dan sebagainya, semuanya akan membantu dalam proses dan hasil belajar.
Demikian juga kondisi saraf pengontrol kesadaran dapat berpengaruh pada proses
dan hasil belajar. Disamping kondisi-kondisi di atas, merupakan hal yang
penting juga memperhatikan kondisi pancaindera. Karena kondisi pancaindera tersebut
akan memberikan pengaruh pada proses dan hasil belajar.
b.
Faktor
Psikologis
Setiap manusia atau anak memiliki kondisi
psikologis yang berbeda-beda. Beberapa faktor psikologis yang dapat diuraikan
di antaranya meliputi : intelegensi
(kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat
dan efektif, kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, dan kemampuan
memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali), perhatian (keaktifan jiwa yang
dipertinggi, jiwa semata-mata tertuju kepada suatu objek ataupun sekumpulan
objek), minat dan bakat
(kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan),
motif & motivasi (sebagai daya
upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu), kognitif dan daya nalar (persepsi, mengingat, dan berpikir).
b. Faktor Eksternal
Proses belajar didorong oleh
motivasi intrinsik siswa. Disamping itu, proses belajar juga dapat terjadi,
atau menjadi bertambah kuat, bila didorong oleh lingkungan siswa. Program
pembelajaran sebagai pendidik guru disekolah merupakan faktor eksternal belajar.
Ditinjau dari segi siswa, maka ditemukan beberapa faktor ekstern yang
berpengaruh pada hasil belajar.
Menurut Munadi (2008:31-32) : faktor eksternal tersebut
adalah sebagai berikut:
1.
Faktor Lingkungan
Kondisi lingkungan juga mempengaruhi
proses dan hasil belajar. Lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik atau
alam dan dapat pula berupa lingkungan sosial. Lingkungan sosial baik yang
berwujud manusia maupun hal-hal lainnya, juga dapat mempengaruhi proses dan
hasil belajar.
2.
Faktor Instrumental
Faktor-faktor instrumental adalah
faktor yang keberadaan dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar
yang diharapkan. Fakor ini diharapkan
dapat berfungsi sebagai saranan untuk tercapainya tujuan-tujuan belajar
yang telah direncanakan. Faktor
instrumental ini dapat berupa kurikulum, sarana dan fasilitas, dan guru.
Sehubungan dengan itu Sabri (2010:45) mengatakan :
“faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah faktor dari diri siswa itu
sendiri dan lingkungan siswa”. Faktor yang datang dari diri siswa dari diri
siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya
terhadap hasil belajar yang dicapai. Dengan ini bahwa faktor kemampuan yang
dimiliki siswa juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan
perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial, ekonomi, dan faktor
fisik dan psikis.
Selanjutnya Djamarah (2010:118) mengatakan faktor
yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa yaitu : tujuan, guru, anak didik,
kegiatan pengajaran, bahan dan evaluasi
serta suasana evaluasi.
Dari pendapat para ahli diatas, dapat diambil
kesimpulan bahwa yang menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar ada
dua, yaitu : faktor internal, seperti : faktor psikologis dan fisiologi dan
faktor eksternal, seperti : faktor lingkungan dan instrumental. Dan keduanya
dicakup menjadi faktor yang berasal dari individu (dalam diri anak) dan faktor
yang berasal dari lingkungan.
Dalam Kitab Perjanjian Baru, Tuhan Yesus sebagai Guru Agung, dalam setiap
pengajaran-Nya sering memakai atau menggunakan alat peraga sebagai media
pengajaran-Nya. Misalnya , Ketika Tuhan Yesus mengajar tentang apa yang layak
diberikan kepada Tuhan, Ia menggunakan mata uang sebagai alat peraga (Matius
22:19-20); Dia memakai seorang anak untuk mengajar tentang sikap hati yang
patuh (Matius 18: 2); Dia juga menggunakan pohon ara untuk mengajarkan
pelajaran tentang iman (Matius 21 : 19) , dan masih banyak lagi contoh Tuhan
Yesus dalam memanfaatkan media alat peraga dalam pengajaran - Nya.
Sebagai Guru, Tuhan Yesus selalu mencari dan menemukan berbagai cara dalam
mengajar, serta dalam menghadapi berbagai situasi pendengar - Nya dengan media
atau alat peraga untuk menyampaikan pesan atau maksud pengajaran-Nya, sehingga
pengajaran - Nya lebih menarik dan dapat diterima dengan baik. Salah satu
contoh pengajaranTuhan Yesus yang terkenal adalah dengan perumpamaan.
Tuhan Yesus
menggambarkan kasih Bapa dalam perumpamaan lainnya. "Bagaimana pendapatmu?
Jika seorang mempunyai seratus ekor domba dan seekor di antaranya sesat,
tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan
dan pergi mencari yang sesat itu?" (Matius 18:12-14; lihat juga Lukas 15:4-7). Karena Ia tahu bahwa mereka adalah gembala dan domba, maka pendengar-Nya
segera membayangkan seekor domba yang tidak patuh yang sedang dicari oleh
gembalanya yang baik, dan mereka menangkap pandangan tentang Tuhan.
Dia juga memberikan
ilustrasi tentang kebenaran yang sama dengan menceritakan seorang wanita yang
dengan cermat mencari uangnya yang hilang dan juga seorang ayah yang dengan
sabar menunggu anaknya yang memberontak dalam perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15:8-32).
Hasil belajar siswa
pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang mecakup bidang kognitif,
afektif, dan psikomotoris (sudjana, 2005). Untuk mengetahui hasil belajar
siswa, dibutuhkan penilaian sebagai hasil akhir dari hasil belajar. Oleh sebab
itu, dalam penilaian hendaknya diperiksa sejauh mana perubahan tingkah laku
siswa telah terjadi melalui proses belajarnya.
5. Karakteristik Perkembangan Peserta Didik Usia Remaja
6.1. Pengertian
Karakter
Karakter merupakan unsur pokok dalam diri manusia yang dengannya
membentuk karakter psikologi seseorang dan membuatnya berperilaku sesuai dengan
dirinya dan nilai yang cocok dengan dirinya dalam kondisi yang berbeda-
beda.Berbagai definisi istila atau term dari karakter itu sendiri para tokoh
dan ulama telah menjelaskannya, diantaranya adalah sebagai berikut:
Zubaedi
(2015:12) mengatakan :
“Kata karakter berasal dari bahasa
Yunani yang berarti "to mark" (menandai) dan memfokuskan, bagaimana
mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Oleh
sebab itu, seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus dikatakan
sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara seoarang yang berperilaku jujur,
suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah
karakter erat kaitanya dengan personality (kepribadian) seseorang. Seseorang
bisa disebut orang yang berkarakter (a person of character) apabila perilakunya
sesuai dengan kaidah moral.”
Dengan demikian yang disebut karakter adalah watak perangai sifat dasar yang khas
satu sifat atau kualitas yang tetap terus menerus dan kekal yang dapat
dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seorang pribadi.
Berikut
adalah berbagai kelompok generasi mulai dari baby boomers sampai dari generasi Alpha (https://www.liputan6.com/lifestyle/read/3677417/kenali-karakter-dan-pola-pikir-5-generasi-ini-agar-semakin-bijak).
a. Baby Boomers (1946 - 1960)
Generasi Baby Boomers lahir pada
masa-masa mempertahankan kemerdekaan dan berbagai perang yang telah berakhir
sehingga perlu menata kehidupan bernegara. Alih-alih bergantung pada orang tua,
generasi ini cenderung hidup mandiri. Mereka memegang teguh adat istiadat
sehingga cenderung kolot, namun sangat matang dalam pengambilan keputusan
karena pengalaman kehidupan yang pernah dilalui.
Generasi ini cenderung tidak suka menerima kritik, sedangkan uang
dan pengakuan dari lingkungan adalah target mereka. Umumnya, gengsi menjadi
urutan pertama dalam kehidupan sosial. Meskipun begitu mereka mencari uang
untuk keluarga, yaitu bekerja keras untuk mensejahterahkan anak-anak. loyalitas
dan dedikasi dalam bekerja menjadi poin positif bagi Baby Boomers.
Generasi Baby Boomers sangat peduli terhadap
keturunannya, mereka tidak ingin anak-anaknya merasakan kesusahan yang
dirasakannya saat masa-masa kemerdekaan. Oleh karena itu, mereka cenderung
menghabiskan penghasilannya untuk membeli tanah, rumah, kendaraan dan sisanya
ditabung sebagai warisan untuk anaknya nanti.
Beruntunglah, jika orang tua Anda termasuk generasi Baby
Boomers yang sukses dan berpikiran ke depan sehingga sudah
dipersiapkan oleh mereka rencana untuk warisan. Ingatlah, untuk selalu
menggunakan dengan bijak harta warisan dari orang tua, supaya anak cucu Anda
nantinya juga bisa menikmatinya.
b. Generasi X (Tahun Kelahiran 1961-1980)
Berkat warisan dan didikan generasi sebelumnya, generasi
X mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Oleh sebab itu, pemikiran mereka
sedikit lebih maju. Mereka cenderung suka akan risiko dengan pengambilan
keputusan yang matang.
Dibanding Generasi sebelumnya, Generasi X sangat terbuka dengan
kritik dan saran demi terwujudnya efisiensi dalam bekerja. Kehidupan antara
pekerjaan, pribadi dan keluarga cenderung seimbang karena pemikiran bekerja
untuk hidup bukan hidup untuk bekerja.
Generasi X masih mengadopsi karakter dari orang tuanya yang mencari
uang demi keluarga, bedanya mereka mulai akrab dengan investasi. Berkat didikan
generasi Baby Boomers, generasi ini memiliki ketekunan dalam
bekerja, mereka ingin lebih sukses dari sehingga sebagian dari mereka juga
mulai memiliki jiwa pengusaha. Apalagi, generasi ini mulai mengenal yang
namanya komputer sehingga mulai berpikir secara inovatif untuk mempermudah
kehidupan manusia.
Orang yang terlahir di generasi X, mulai sadar akan pentingnya dana
pensiun untuk masa depan sehingga mereka cenderung menggunakan uang yang
dimiliki untuk modal usaha, biaya anak, membeli kendaraan dan membeli properti.
c. Generasi Y – Generasi Millennial (Tahun
Kelahiran 1981-1994)
Generasi Y atau yang lebih akrab dengan sebutan generasi
millenial adalah generasi yang lahir di saat teknologi sedang berkembang pesat.
Kehadiran komputer, video games, gadget, dan smartphone yang tersambung dengan
kecanggihan internet membuat generasi ini mudah mendapatkan informasi secara
cepat dan sebagainya.
Dengan pendidikan yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya,
generasi ini bisa dikatakan penuh ide-ide visioner, inovatif untuk melahirkan
pengetahuan dan penguasaan IPTEK. Mereka cenderung ambisius dalam bekerja. Di
samping kerja kantoran, sebagian juga membuka bisnis sendiri untuk menuju
kesuksesan. Mereka memiliki jiwa entrepreneur yang tinggi.
Keseimbangan gaya hidup dan pekerjaan menjadi hal yang paling
penting bagi mereka Generasi Y. Karenanya, mereka cenderung mencari pekerjaan
yang dapat menunjang gaya hidup. Jika tidak, mereka cenderung berhenti dari
pekerjaan tersebut.
Karena terlahir di era globalisasi, generasi milenial cenderung
bersifat konsumtif. Mereka banyak menghabiskan uang yang dimiliki untuk
membeli gadget keluaran terbaru, membeli kendaraan, jalan-jalan dan kuliner.
Namun, mereka mulai sadar akan pentingnya properti untuk keluarga, oleh karena
itu banyak juga dari mereka yang mengambil KPR atau KTA untuk rumah maupun
apartemen.
d. Generasi Z (Tahun Kelahiran 1995-2010)
Generasi Z sudah sangat mengenal teknologi. Sejak kecil,
mereka lebih gemar bermain gadget dibandingkan permainan tradisional anak di
era sebelumnya. Jadi, jangan heran kalau generasi Z cenderung menyukai sesuatu
serba yang instan.
Begitu akrabnya dengan internet, generasi Z suka mencari popularitas
dengan aktif di berbagai sosial media dengan style masing-masing.
Jadi jangan heran mereka cenderung menghabiskan uangnya untuk keperluan
fashion, makan di restoran terkenal dan jalan-jalan. Selain media sosial,
Generasi ini sangat gemar melakukan transaksi
belanja secara online karena dinilai praktis dan bisa dilakukan di
mana saja.
Kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi, membuat generasi ini
juga mudah untuk mendapatkan uang secara instan. Bukan hanya dari pemberian
orang tua tapi hasil berselancar internet dengan media social dan kreativitas
mereka masing-masing. Tak heran banyak anak yang belum kerja formal sudah
memiliki penghasilan sendiri.
e. Generasi Alpha (2011-Sekarang)
Generasi ini terlahir dengan teknologi yang semakin
berkembang pesat. Di usia mereka yang sangat dini, mereka sudah mengenal dan
menggunakan gadget, smartphone dan kecanggihan teknologi yang ada. Terlahir
dari keluarga dengan masa Generasi Y yang juga terlahir pada masa-masa awal
perkembangan teknologi maka pola pikir mereka juga terbuka dengan perkembangan
teknologi.
Saat ini, umur paling tua dari mereka adalah 7 tahun. Jadi, belum
bisa diprediksi watak mereka dalam bekerja dan bagaimana kecenderungannya
menghabiskan uang. Meskipun begitu, tidak sedikit dari mereka sudah bisa
menjadi sumber penghasilan bagi orang tuanya berkat kemajuan media sosial. Dulu
hanya anak artis dan publik figur saja yang bisa terkenal, kini anak kecil
siapa saja yang lucu dan menarik bisa menjadi sorotan.”
Dari Tipe generasi di atas
kita melihat bahwa peserta didik dalam penelitian ini berada di generasi Z.
Yang berada pada usia 13-14 tahun. jadi
sangat penting menyuguhan media pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan
mereka misalnya dengan media multimedia seperti infokus dengan powerpoint.
Penggunaan media
dalam pembelajaran sangat berpengaruh terhadap hasil belajar itu sendiri. Hal
itu dapat kita lihat dari pendapat para ahli tentang peran dan fungsi media
pembelajaran itu sendiri. Penggunaan media yang tepat tentu akan menumbuhkan
minat dan motivasi belajar peserta didik dan tentunya sangat berpengaruh
terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik itu sendiri. Ada banyak
pilihan media pembelajaran yang bisa digunakan oleh guru dalam proses belajar
mengajar khususnya dalam PBM Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti.
Di era revolusi 4.0
kita menghadapi kategori generasi Z dan Alpha yang lahir antara tahun 1995 –Sekarang.
Generasi Z dan Alpha lahir dan Hidup di
zaman teknologi yang serba modern. Dari kecil mereka sudah mengenal teknologi
seperti gadget. Bahkan mereka sudah mengenal internet. Jadi sudah saatnya
dalam proses belajar mengajar kita
menggunkan media yang berbasis IT. Tentu kita bisa menampilkan gambar dan video
yang tentu saja akan menarik minat belajar dan motivasi belajar peserta didik
dan akan berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. Dan dalam mengantar
materi yang menarik seorang guru bisa mendesain materi itu sedemikian rupa
misalnya menampilkannya dalam bentuk power point. Dan semuanya itu akan sangat
tertolong jika kita menggunakan media infokus dalam proses pembelajaran. Dengan
penggunaan infokus kita bisa menampilkan banyak media pembelajaran seperti
gambar dan video. Jadi melalui penelitian ini penulis ingin melihat pengaruh
penggunaan Media Infokus dengan power point terhadap hasil belajar siswa.
DAFTAR
PUSTAKA
Arikunto. 2013. Dasar-dasar Evaluasi
Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara
_______. 2010. Prosedur
Penelitian. Jakarta : Rineka
Cipta.
Djahmarah, Syaiful Bahri. 2010. Srategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka
Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri & Aswan
Zain. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Gerlach & Ely. www.duniaedukasi.net/2010/04.
Hadis,
Abdul. 2008. Psikologi dalam Pendidikan.
Bandung: Penerbit Alfabeta.
Hari
Setiawan, 2004, Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Surabaya: Karya Gemilang Utama.
Hasibuan,
JJ & Moedjiono. 2009. Proses Belajar
Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Iskandar W. & J. Mandalika. 1982. Kumpulan
dan Pikiran-pikiran dalam Pendidikan. Jakarta:
Rajawali.
Istarani.
2012. Kumpulan 39 Metode Pembelajaran. Medan : CV ISCOM.
Januszewski dan Moleda. Instructional Technology end Media For Learning. Prentice Hall.
Kristanto, Paulus Lilik. Prinsip dan Praktek PAK Penuntun bagi Mahasiswa Teologi dan PAK,
Pelayan Gereja, Guru Agama dan keluarga Kristen, Yogyakarta: ANDI Offset.
Munadi.
2008. Media Pembelajaran. Jakarta :
Gaung Persada Perss.
Nasution, S. (1982). Azas-azas Kurikulum. Bandung: Jemars.
Nurkanca, Wayan. 2005. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Purwanto.
2008. Evaluasi Hasil Belajar.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Riyana, Cepy. 2012. Media Pembelajaran. Jakarta Pusat : Subdit Kelembagaan Direkotrat
Pendidikan Tinggi Islam
Sabri, Ahmad. 2007. Strategi Belajar Mengajar Mengajar Micro Teaching. Ciputat : PT
Ciputat Press.
Slameto, S. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka
Cipta
Sudjana, N. 2005. Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Syamsul, Yusuf. 2000. Psikologi Perkembangan Anak dan remaja. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Usman, Uzer. 1994. Menjadi
Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Zubaedi, 2015. Desain
Pendidikan Karakter. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
iv
0 komentar:
Posting Komentar